Enam pertanyaan untuk mendorong perubahan di sekolah
Are teachers leaders in education? || Yes in
discovering what works. But for sustainable change, it must be admins
Apakah seorang guru adalah pemimpin dalam perubahan di
dunia pendidikan? Jawabannya Ya, namun untuk mewujudkan perubahan yang ajeg dan
berkelanjutan, kepala sekolah dan pengelolannya lah yang mesti ambil bagian
@ShellTerrell
Kalimat diatas akan terasa gaungnya bagi para
pengelola, kepala sekolah, orang tua siswa atau guru yang haus akan perubahan.
Di sekolah swasta yang mengandalkan hidup matinya dari banyak murid yang
bersekolah kata ‘guru yang professional dan mau berubah’ menjadi kata-kata
sakti yang bermakna sangat dalam. Hal ini dikarenakan di situlah kunci sebenarnya
dari maju mundurnya sekolah. Di sekolah negeri juga demikian, ditengah ‘program
sekolah gratis’ sebenarnya orang tua murid juga ingin melihat guru-guru anaknya
professional dan selalu senang untuk berubah ke arah yang lebih baik. Sayangnya
banyak orang tua yang khawatir guru akan mengatakan “sudah ‘gratis’ kok mau
bagus!”. Jika anda pengelola sekolah atau kepala sekolah, berikut ini adalah
beberapa hal yang bisa dilakukan dalam membuat perubahan di sekolah. Saya
kumpulkan beberapa pertanyaan kepada organisasi sekolah anda sendiri sebelum
memulai perubahan.
Apakah sekolah punya budaya komunikasi yang baik,
lancar dan mendengar apa keluhan serta keinginan guru serta harapan orang tua
siswa terhadap sekolah?
Karena….
Sebuah perubahan membutuhkan pribadi-pribadi yang mau
mendengar. Bukan jamannya sekolah memusuhi guru yang kritis, guru yang banyak
maunya terhadap sekolah atau orang tua siswa yang cepat diberi label ‘cerewet’
hanya karena banyak keinginannya terhadap sekolah.
Apakah sekolah punya sistem dimana guru bekerja sama
sebagai tim?
Karena….
Sebuah perubahan terjadi karena dikerjakan
bersama-sama. Sekolah yang berhasil sekuat tenaga membuat guru-gurunya bersedia
bekerja sama dalam tim. Caranya adalah memberikan kesadaran bahwa segala sesuatu
akan terasa ringan jika dikerjakan secara bersama-sama.
Apakah pribadi yang mengelola atau mengepalai sekolah
adalah pribadi yang menghargai proses, ramah ketika ada guru atau orang tua
bertanya serta senang melihat guru-gurunya melalui prosesnya masing-masing?
Karena….
Seorang pemimpin di sekolah adalah sebuah kunci bagi
perubahan. Cobalah jadi pemimpin yang senangnya hanya menyuruh atau berbicara
akrab jika ada maunya saja pada staff. Maka bawahan akan melakukan sesuatu
hanya karena disuruh oleh kepala sekolah. Bawahan jadi miskin ide dan inovasi,
karena toh ia merasa pemimpin hanya akrab jika ada maunya saja, cari aman
sendiri dan hanya sibuk menservis atasan. Jadilah pemimpin yang mudah
‘dijangkau’ oleh guru dan siswa. Jadilah pemimpin yang guru-gurunya merasakan
keberadaannya atau pengaruhnya ada bahkan ketika secara fisik sang
pemimpin tidak ada di tempat. Jadilah pemimpin yang mengabdi pada atasan
sekaligus pada saat yang sama ‘membesarkan’ ide, semangat dan inovasi
bawahannya. Pemimpin yang hanya sibuk sendiri tanpa guru tahu kesibukannya apa,
maka guru akan merasakan tidak ada bedanya ada dan tiada kepala sekolah
tersebut di sekolah.
Apakah sekolah anda menerapkan sistem ‘shared
leadership’ perwujudannya adalah sekolah menempatkan guru sebagai koordinator
di dalam berbagai macam bidang dibawah kepala sekolah?
Karena….
Sekarang bukan jamannya lagi hanya meminta guru untuk
sibuk mengajar di kelas. Hanya sibuk dan suntuk mengajar di kelas itu guru
jaman dulu. Guru era baru senang diberi tanggung jawab diluar tugasnya sebagai
pengajar. Karena saat yang sama sifat pemimpin dari seorang guru perlu
ditumbuhkan. Sekolah yang baik isinya adalah guru yang cakap dalam mengajar
serta ahli dalam memimpin. Dalam sebuah perubahan sesama guru akan senang melakukan
sesuatu jika yang menyuruh itu rekan sekerjanya dan bukan pemimpin atau kepala
sekolah. Jadi saatnya sekolah mencari bibit pemimpin diantara para guru yang
ada di semaikan sebagai bagian dari perubahan itu sendiri di sekolah.
Apakah sekolah anda mempunyai ‘student council’ atau
organisasi siswa intra sekolah yang secara teratur dimintakan pendapatnya untuk
beragam isu di sekolah?
Karena…
Pasti anda setuju bahwa sebuah sekolah komposisi
jumlahnya yang paling banyak adalah jumlah siswa jika dibandingkan jumlah guru
atau staff lain yang ada di sekolah. Mirisnya masih banyak sekolah yang
menganggap siswa itu cuma obyek untuk dibelajarkan atau disiram ilmu
sebanyak-banyaknya. Saatnya sekarang aspirasi siswa didengarkan. Bentuk
perwakilan tiap kelas, isinya adalah 2 orang siswa yang sudah dipilih oleh
teman sekelasnya. Satu orang siswa bertugas di semester 1 dan yang satunya
bertugas di semester 2. Kedua orang ini bertugas memberikan masukan berdasarkan
ide atau pendapat teman-teman yang diwakilinya di sekolah. Tugaskan dua orang
guru untuk menjadi coordinator dari badan perwakilan siswa ini, biarkan mereka
bertemu dua minggu sekali untuk membahas hal-hal apa saja yang menjadi
kepedulian mereka terhadap sekolah. Jika ada sebuah isu yang manyangkut kepentingan
orang banyak, guru dan siswa yang ada di badan tersebut secara teratur akan
menyampaikannya pada pengelola atau kepala sekolah. Ketika nuansa perubahan
datang dari siswa kita sendiri saya yakin pengelola atau kepala sekolah tidak
akan bilang tidak. Mereka dengan segera dan senang hati akan wujudkan perubahan
itu.
Apakah sekolah anda punya sarana penerbitan
‘newsletter’ yang terbit secara teratur?
Karena…
Sebuah perubahan perlu medium atau penghantar kabar
kepada pihak yang menjadi ‘stake holder’ dari sekolah. Mereka adalah orang tua
siswa, guru, diknas setempat bahkan calon orang tua siswa. Sebuah penerbitan
yang sederhana dan murah pun akan kuat maknanya dalam menyuarakan kepada semua
‘stake holder’ bahwa sekolah ini sedang berubah, bahwa sekolah ini sedang
berproses untuk menjadi lebih baik. Terbitannya punya waktu per 2 minggu
(sebulan dua kali) isinya mengenai kabar kegiatan sekolah yang baru lalu dan
kegiatan di dalam kelas. Biarkan guru menulis berita mengenai apa yang terjadi
di kelasnya dan hadirkan foto-foto kegiatan yang ‘berbicara’. Jika sekolah
sedang ingin melakukan sebuah perubahan juga bisa disuarakan disini. Keuntungan
dari penerbitan ini adalah sekolah jadi punya alternative komunikasi dan
ujung-ujungnya akan mengurangi keluhan atau protes pada sekolah yang terjadi
akibat kurangnya komunikasi.
Bebarapa pertanyaan diatas mungkin sekolah anda belum
punya atau bahkan semua sudah terjadi di sekolah anda. Saatnya untuk kembali
mensucikan niat untuk siapa sebuah sekolah mesti berubah. Untuk sekolah swasta
atau negeri yang sudah lama dan terkenal (dibuktikan dengan daftar tunggu siswa
setiap tahun ajaran baru) perubahan juga wajib hukumnya. Sebuah sekolah akan
turun pamor dan mutunya ketika pengelola, kepala sekolah dan guru-gurunya
mengatakan “sekolah kami baik-baik saja kok, tidak ada hal yang mesti diubah”.
Karena berubah berarti berinovasi, berinovasi berarti menyempurnakan yang sudah
ada menjadi lebih baik lagi dan lagi.
di copy dari https://gurukreatif.wordpress.com/